User Online [Close]
cbox

27 November 2012

Roro Mendut, Kisah Kasih Tak Sampai


Shakespeare punya karya masyhur Romeo-Juliet. Di bumi Timur Tengah juga ada kisah Layla-Majnun. Nah, Pati juga punya cerita rakyat –dan ini kisah nyata, yaitu Roro Mendut dan Panacitra. Saking melegendanya, penulis kawakan Putu Wijaya pernah mengangkat parodinya dalam sebuah cerpen yang berjudul Mendut (Kumpulan Cerpen Gres, Balai Pustaka, maaf, lupa tahun terbitnya, gak bawa bukunya).
Putu memang penulis idola saya. Namun sebenarnya saya menantikan buah tangan dari penulis besar Pramoedya Ananta Toer menuturkan kisah ini. Sayang, entah memang Pram tak pernah menulisnya, atau hingga kini karyanya banyak yang hilang, hingga sekarang dia tiada, saya tak menemukan karyanya tentang Mendut –mungkin juga koleksi buku Pram yang masih minim saya baca. Bisa kita bayangkan, gaya bahasanya yang menggugah sentimental, kisah rakyat jelata ini akan hidup di tangan Pram. Sayang, hal itu nampaknya tak pernah terjadi. Padahal dari tangannya kita menikmati Calon Arang, Arok-Dedes, dan Arus Balik, dan karya besar lainnya.
Bisa dibilang, kisah Mendut ini adalah kelanjutan dari apa yang diceritakan dalam Arus Balik Pram. Arus Balik hanya terhenti pada kemunduran Demak. Arus Balik belum menceritakan kelanjutan Pajang yang makin mundur ke pedalaman Mataram. Nah, ceritera Mendut ini bersetting masa Mataram di bawah Sultan Agung. Mendut di sini tiada kaitannya sama sekali dengan Candi Mendut yang menjadi bagian dari trilogi Candi Budha di Magelang (Mendut-Pawon-Borobudur).
Mendut adalah nama perempuan elok molek yang terlahir dari Desa Trembagi, Pati. Saya hingga kini belum menemukan tahun berapa, sebagai tarikh yang tepat dalam menjelaskan peristiwa ini. Tentu diperlukan studi historis yang lebih mendalam. Namun hal itu, dalam konteks ini, bisa agak dikesampingkan. Kita lakukan saja pendekatan ‘dongeng’ daripada pendekatan ‘sejarah’. Meskipun ini kisah nyata, rakyat lebih mengakrabinya sebagai hikayat atau dongeng. Namun, sebagai patokan, jika memang hingga kini diyakini Mendut hidup pada masa kekuasaan Sultan Agung, tentu konteksnya adalah dekade awal tahun 1600-an.
Mendut sejak kecil diasuh oleh Adipati Pati. Kadipaten Pati (dulu namanya Pesantenan, karena penghasil santan yang kesohor, dan dikenal juga dengan penghasil dawet –minuman khas Jawa yang menggunakan santan dan cendol) adalah sebuah kadipaten kecil yang masih belum bisa ditaklukkan oleh Mataram. Pram menyebutkan bahwa Pesantenan memang sempat jatuh di tangan Demak pada masa ekspedisi Trenggono (raja ketiga setelah Raden Patah dan Pati Unus alias Pangeran Sabrang Lor. Trenggono sendiri naik takhta setelah menyingkirkan Pangeran Sekar Sedo ing Lepen, yang dibunuh oleh anak Trenggono, Sunan Prawoto. Trenggono akhirnya tewas diracun oleh pemuda berusia sepuluh tahun yang menyamar sebagai pelayan minuman. Trenggono terbunuh dalam usaha penaklukan kerajaan di Jawa Timur). Trenggono memang getol mencaplok kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Pantura atau pesisir.
Selepas keruntuhan Demak dan ditariknya kekuasaan ke pedalaman Pajang oleh Jaka Tingkir, mungkin saja nasib Pati kembali lepas dari kekuasaan kerajaan manapun. Saya bukan ahli sejarah, bisa dicek kepastiannya. Setelah itu, Pajang makin masuk ke pedalaman selatan dan menjadi Mataram.
Sultan Agung ketika menjabat raja Mataram, juga hendak menguasai kerajaan-kerajaan kecil yang masih berserak di pulau Jawa. Dari sudut pandang yang antikeraton, tindakan ini bisa dibilang hendak menguasai dan mempertahankan kekuasaan yang masih tersisa, mengingat penjajah Belanda makin meruyak di tanah Jawa. Dari sudut pandang prokeraton, tindakan ini diartikan sebagai usaha mempersatukan tanah Jawa demi mengusir penjajah Belanda. Kita tinggalkan saja debat ini. Saya sendiri tak tertarik dengan hal yang berbau keraton apalagi golongan ningrat. Yang jelas faktanya, Mataram hendak mencaplok Pati –sebagai salah satu kerajaan kecil di pesisir utara.
Politik yang dijalankan oleh Sultan Agung, jika usaha bersenjata tak bisa berjalan mulus, maka dijalankanlah usaha persaudaraan dengan perkawinan. Hal ini yang dia lakukan dengan mengawini putri dari Surabaya. Nah, usaha persahabatan inilah yang hendak dia lakukan. Diutuslah Tumenggung Wiraguna untuk menaklukkan Pati.
Setibanya rombongan Mataram di Pati dan bertemu dengan Adipati, Pati sepakat mengakui kekuasaan Mataram. Sebagai tanda taklukan, Adipati menyerahkan gadisnya kepada Tumenggung Wiraguna. Dipilihlah gadis asuhnya, Mendut. Diboyonglah Mendut ke Tlatah Mataram.
Padahal, Mendut sendiri sudah merajut cinta dengan seorang pemuda bernama Panacitra. Tak rela gadisnya beranjak ke negeri lain, Panacitra pun mengikuti jejaknya ke Mataram. Setibanya di Mataram, Panacitra menyamar jadi pekatik (pegawai yang merawat kuda prajurit dan raja). Lewat jalur itulah Panacitra dan Mendut bisa bertemu melepas rindu.
Mendut sendiri tak sudi bakal disunting oleh si tua Wiraguna. Dibiarkanlah beberapa waktu, agar Si Mendut tumbuh lebih dewasa. Mendut tak sudi hidup di lingkungan keraton. Dia pun diperbolehkan keluar dari lingkungan istana, asalkan, dia bisa mencari nafkah dengan tenaga sendiri.
Nah, Si Mendut pun menyanggupi tantangan ini, dengan menghidupi diri sendiri dengan berjualan rokok. Setiap pria, baik muda maupun tua, sangat tersihir oleh pesona kecantikan Mendut. Rokoknya laris manis. Apalagi, rokok bekas sedotan bibir Si Mendut. Akan terasa lebih manis dan sedap.
Akhirnya hubungan Mendut-Panacitra terendus juga oleh Wiraguna. Tak terima hadiah yang diberikan oleh Kadipaten Pati ini direnggut oleh seorang pemuda desa rendahan, seorang tumenggung pun bisa bermata gelap. Ditantanglah Panacitra duel maut oleh Wiraguna. Karena Panacitra hanyalah pemuda yang minim pengalaman tarungnya, dan Wiraguna adalah tumenggung yang sarat pengalaman, bisa ditebak hasil pertandingan yang tak seimbang ini.
Panacitra tewas dengan dada tertembus keris. Mendut pun meratap dan keluarlah sumpah dari mulutnya, bahwa Wiraguna, walau bagaimanapun, tak akan bisa memilikinya. Dicabutlah keris yang menancap dari tubuh kekasihnya, dan diakhirilah hidupnya sendiri dengan menghunus keris ke dadanya sendiri.
Mendut, seorang perempuan yang menggugat kemapanan kekuasaan patriarkis. Dia pun melawan dan membuktikan, perempuan tak akan sudi hanya sekedar menjadi hadiah tanda penaklukan suatu daerah atas daerah yang lain. Sayang, Mendut terlewat dari perhatian Pram, mengingat Pram sendiri berasal dari Blora, kota yang bersebelahan persis dengan Pati. Mendut, bukannya muluk, bisa kita sejajarkan dengan Kartini, Nyai Ontosoroh, Midah, Larasati, atau perempuan-perempuan kuat lainnya yang ditulis oleh Pram.
Kini, makamnya masih ramai dikujungi oleh peziarah. Terutama para pedagang rokok. Mereka percaya, agar dagangannya laku keras, mereka setidaknya menziarahi makam perempuan yang satu ini.

Candi Mendut


Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta. Lokasinya hanya sekitar 3 km dari Candi Borobudur.
Candi Mendut ini memiliki keterkaitan dengan Candi Borobudur dan Candi Pawon. Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis lurus arah utara-selatan.
Belum didapatkan kepastian mengenai kapan Candi Mendut dibangun, namun J.G. de Casparis menduga bahwa Candi Mendut dibangun oleh raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M. Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Karangtengah (824 M), yang menyebutkan bahwa Raja Indra telah membuat bangunan suci bernama Wenuwana. Casparis mengartikan Wenuwana (hutan bambu) sebagai Candi Mendut. Diperkirakan usia candi Mendut lebih tua daripada usia Candi Borobudur.
Candi Mendut memiliki denah dasar berbentuk segi empat. Tinggi bangunan seluruhnya 26,40 m. Tubuh candi ini berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Di permukaan batur terdapat selasar yang cukup lebar dan dilengkapi dengan langkan. Dinding kaki candi dihiasi dengan 31 buah panel yang memuat berbagai relief cerita, pahatan bunga dan sulur-suluran yang indah.
Di beberapa tempat di sepanjang dinding luar langkan terdapat jaladwara atau saluran untuk membuang air dari selasar. Jaladwara terdapat di kebanyakan candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti di Candi Barabudhur, Candi Banyuniba, Candi Prambanan dan di Situs Ratu Boko. Jaladwara di setiap candi memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Tangga menuju selasar terletak di sisi barat, tepat di depan pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi. Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi dilengkapi dengan bilik penampil yang menjorok keluar. Atap bilik penampil sama tinggi dan menyatu dengan atap tubuh candi. Tidak terdapat gapura atau bingkai pintu pada dinding depan bilik penampil. Bilik itu sendiri berbentuk lorong dengan langit-langit berbentuk rongga memanjang dengan penampang segi tiga.
Dinding pipi tangga dihiasi dengan beberapa panil berpahat yang menggambarkan berbagai cerita. Pangkal pipi tangga dihiasi dengan sepasang kepala naga yang mulutnya sedang menganga lebar, sementara di dalam mulutnya terdapat seekor binatang yang mirip singa. Di bawah kepala naga terdapat panil begambar makhluk kerdil mirip Gana.
Atap candi itu terdiri dari tiga kubus yang disusun makin ke atas makin kecil, mirip atap candi-candi di Komplek Candi Dieng dan Gedongsongo. Di sekeliling kubus-kubus tersebut dihiasi dengan 48 stupa kecil. Puncak atap sudah tidak tersisa sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya.
Di sudut selatan, di halaman samping Candi Mendut terdapat batu-batu reruntuhan yang sedang diidentifikasi dan dicoba untuk direkonstruksi.

22 Mei 2012

Candi Prambanan

Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. “Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!”, ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. “Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku,” pikir Bandung Bondowoso.

Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang. “Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?”, Tanya Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. “Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya”, ujar Loro Jongrang dalam hati. “Apa yang harus aku lakukan ?”. Loro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.

“Bagaimana, Loro Jonggrang ?” desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. “Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya,” Katanya. “Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”. “Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. “Seribu buah?” teriak Bondowoso. “Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. “Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!”, kata penasehat. “Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!”

Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. “Pasukan jin, Bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. “Apa yang harus kami lakukan Tuan ?”, tanya pemimpin jin. “Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.

Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. “Wah, bagaimana ini?”, ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. “Cepat bakar semua jerami itu!” perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung… dung…dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.

Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. “Wah, matahari akan terbit!” seru jin. “Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari,” sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.

Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. “Candi yang kau minta sudah berdiri!”. Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. “Jumlahnya kurang satu!” seru Loro Jonggrang. “Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”. Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. “Tidak mungkin…”, kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang. “Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!” katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang. Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan disebut Candi Loro Jonggrang. Karena terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah, Candi Loro Jonggrang dikenal sebagai Candi Prambanan

Sumber : legendakita.wordpress.com

16 Mei 2012

Manfaat Kacang Hijau

Manfaat kacang hijau sangat luarbiasa, kandungan protein yang cukup tinggi dan sumber mineral penting, seperti kalsium dan fosfor, menjadikan kacang hijau merupakan salah satu tanaman herbal yang patut diperhitungkan.Kecambah kacang hijau pun, yang biasa dikenal sebagai tauge, banyak sekali mengandung enzim aktif, salah satunya adalah enzim amilase yang dapat membantu metabolisme karbohidrat.manfaat kacang hijauKhasiat dan manfaat kacang hijau tidak akan berkurang walaupun direbus lama (sampai hancur). Inilah kelebihan dari kacang hijau karena khasiat kacang hijau tidak terpengaruh panas. Berbeda dengan bahan makanan yang lain seperti sayur, buah, dan ramuan tradisional lainnya yang apabila di rebus terlalu lama akan menurunkan khasiat obatnya.Kandungan gizi yang terdapat dalam 110 gr kacang hijau adalah 345 kalori, 22,2 gr protein, 1,2 gr lemak, dan sisanya berupa vitamin A, vitamin B1, fosfor, zat besi, mangan.Kandungan vitamin E membantu meningkatkan kesuburan. Sangat baik untuk menjaga keasaman lambung dan memperlancar pencernaan karena bersifat alkalis (basa). Untuk kecantikan, yaitu membantu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghilangkan noda-noda hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan melangsingkan tubuh.Kacang hijau memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, yaitu sebanyak 24 %. Di dalamnya terdapat sumber mineral penting antara lain kalsium dan fosfor yang bermanfaat untuk memperkuat tulang. Lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh sehingga baik untuk jantung. Selain itu aman dikonsumsi oleh mereka yang memiliki masalah dengan berat badan karena kandungan lemahnya rendah.manfaat khasiat kacang hijauSelain enak dan banyak mengandung banyak vitamin dan mineral manfaat kacang hijau juga dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti beri -beri, radang ginjal, tekanan darah tinggi, keracunan alkohol dan pestisida, mengurangi gatal karena biang keringat, muntaber, menguatkan fungsi limpa dan lambung, impotensi, TBC, jerawat, mengatasi flek hitam di wajah, dan menurunkan demam.Bagi orang yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi kacang hijau juga tepat. Lemak kacang hijau tersusun atas 73% asam lemak tak jenuh dan 27% asam lemak jenuh. Umumnya kacang-kacangan memang mengandung lemak tak jenuh tinggi. Asupan lemak tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan jantung.Kacang hijau mengandung vitamin B1 yang berfungsi untuk mencegah penyakit beri-beri, membantu proses pertumbuhan, meningkatkan nafsu makan, memperbaiki saluran pencernaan, dan memaksimalkan kerja syaraf. Ada penelitian yang menyatakan bahwa pada sekelompok orang yang makanannya kurang cukup mengandung vitamin B1, seperti kacang hijau, dalam waktu singkat muncul gejala-gejala mudah tersinggung, tidak mampu memusatkan pikiran, dan kurang bersemangat. Gejala-gejala ini mirip dengan tanda-tanda orang stres.Tidak cuma vitamin B1, kacang hijau juga mengandung vitamin B2 yang tugasnya membantu penyerapan protein dalam tubuh. Kehadiran vitamin B2 ini akan meningkatkan pemanfaatan protein sehingga penyerapannya menjadi lebih efisien.Oh ya, selain kacangnya, kecambah kacang hijau juga punya manfaat tak kalah penting antara lain :
  1. Antioksidan kecambah membantu memperlambat proses penuaan
  2. Mencegah penyebaran sel kanker
  3. Kandungan vitamin E-nya membantu meningkatkan kesuburan
  4. Sangat baik untuk menjaga keasaman asam lambung dan melancarkan pencernaan
  5. Berguna untuk kecantikan yaitu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghilangkan noda-noda hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan melangsingkan tubuh.
Wah, banyak sekali ya manfaat kacang hijau ini. So, buat kamu-kamu terutama remaja, mulailah mengkonsumsi kacang hijau sekarang juga! Itulah sederetan manfaat kacang hijau, semoga pengetahuan lebih akan manfaat kacang hijau bisa menjadikan anda lebih interest lagi terhadap makanan yang ajaib ini.

SehatOnline/Nilna Rahmi Isna dan dari berbagai sumber

Sumber : obatherbalalami.com

Download Software